Posted by: gasingindonesia | 28 February 2009

Gasing Lombok Timur : Begasingan

Pemantok & Penggorong
Dari Masyarakat Sasak, Lombok

org-megang-gasingBegasingan merupakan salah satu dari permainan yang mempunyai unsur seni dan olah raga, dan merupakan permainan yang tergolong cukup tua di masyarakat Sasak.

Begasingan ini berasal dari dua suku kata yaitu Gang dan Sing yang artinya ; Gang adalah lokasi lahan / lorong, Sing artinya suara.

Permainan ini biasanya dilaksanakan pada tempat atau lokasi yang kosong dimana saja bisa dilaksanakan atau diadakan tidak seperti permainan lain.
Read More…

Advertisements
Posted by: gasingindonesia | 28 February 2009

GASING KALIMANTAN TIMUR

PERMAINAN TRADISIONAL RAKYAT KALIMANTAN TIMUR
BEGASING.

Begasing merupakan jenis permainan tradisional Kalimantan Timur, baik masyarakat pedalaman maupun masyarakat pesisir pantai. Dalam permainan ini sangat mencerminkan lapisan atau stratifikasi dalam masyarakat. Hal ini dapat kita lihat dalam pengunaan kata haluan (pesuruh), Mentri dan Raja (Meruhum dalam bahasa Kutai). Permainan ini sangat memerlukan kecepatan dan kecermatan serta konsentrasi dari pemain. Permainan ini dilakukan tidak mengenal musim.

Peralatan.
1. Gasing.
Bahan dari kayu keras (ulin atau Benggeris) dengan bentuk : bahagian atas disebut kepala bentuk bulat dengan diameter 1,5 cm, tinggi 2 cm pada bagian puncak dibuatagak miring. Pada bagian tenagah berbentuk bulat dimana semakin ke bawah semakin runcing. Titik pertemuan ini harus pada pertengahan sehingga gasing ini seimbang. Tinggi gaing 10-15 cm. Yang paling penting diperhatikan dalam pembuatan gasing ini adalah keseimbangan antara kepala, badan dan lain-lain.
Read More…

Posted by: gasingindonesia | 28 February 2009

GASING KALIMANTAN BARAT

1. ASAL USUL LAHIRNYA PERMAINAN GASING

Dua suku asli dan terbesar yang menghuni Kalimantan Barat yaitu Dayak dan Melayu. Kedua suku ini memang mempunyai banyak kesamaan-kesamaan budayanya diantaranya adalah permainan gasing. Yang berbeda hanyalah dalam penyebutan atau bahasa yang digunakan. Tidaklah heran bila dalam penuturan asal usul permainan gasing ini dibuat dalam dua bahasa atau penyebutan, tidak lain agar para pembaca sedikit dapat memahami inilah kultur sebagian kecil bangsa ini.Gasing Syuku Dayak Kalimantan

Konon Gasing pada masyarakat Dayak Kanayatn lebih dikenal dengan Pangka atau Bapangka’ dan sebaliknya Bepangkak menurut melayu dalam hal inilah maka sengaja penulis hanya menuturkan menurut versi dayak karena menurut legenda dan ceritanya banyak kesamaannya.

Menurut cerita yang terdapat pada orang Dayak Kanayatn, gasing adalah Manusia ?Talino? jelmaan jubata ?Tuhan? yang disebut NEK GASIKNG bernama ? NEK ABAKNG SAJINTE JUBATA TAPAKNG, juga sebagai penguasa pohon-pohon kayu yang tumbuh dihutan. Sehingga Janis kayu yang dibuat sebagai bahan gasing yang terbaik adalah urat/bandir ?akar? dari kayu Tapakng.
Read More…

Posted by: gasingindonesia | 28 February 2009

GASING Jamplung

GASING Jamplung

Dari Pesisir Seginggi, Lombok

jamplung-yg-belum-di-catGasing Jamplung adalah salah satu jenis gasing yang terdapat di Pulau Lombok, tepatnya di daerah pesisir pantai Seginggi, Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Gasing ini termasuk gasing jenis bunyi, dan bahannya terbuat dari buah Jamplung ( nyamplung ), yang banyak terdapat di pinggiran pantai. Tangkai gasing terbuat dari serutan bambu yang berbentuk seperti lidi, berfungsi sebagai poros.
Read More…

Posted by: gasingindonesia | 28 February 2009

GASING LAMPUNG

lampungDi Propinsi Lampung, tepatnya di daerah Panengahan Kalianda Lampung Selatan, permainan gasing disebut Pukang. Permainan Pukang ini sering dilakukan secara berkelompok dengan jumlah pemain antara 3 hingga 6 orang atau lebih. Tempat bermain pukang merupakan tanah lapang yang luasnya memungkinkan untuk leluasa memukul gasing, karena itu sedapat mungkin jaraknya jauh dari rumah penduduk. Misalnya, di lapangan tempat penjemuran kopi atau lada. Hal ini guna mengantisipasi terjadinya kerusakan rumah (kaca pecah) yang disebabkan benturan gasing yang melenceng liar tanpa tujuan.

Waktu bermain biasanya sore hari setelah anak-anak pulang mengaji dan sering pula diadakan untuk meramaikan perayaan HUT Kemerdekaan RI atau juga sewaktu hajatan resepsi pernikahan. Para pelaku didominasi kaum lelaki dari berbagai usia baik anak-anak, remaja, maupun orang tua.

Gasing atau pukang, yang dewasa ini difungsikan sebagai alat permainan olah raga anak-anak, dibuat dari kayu pilihan, seperti: kayu kemuning, sawo, nyam lalat (?) atau merbau. Setiap bahan kayu harus memenuhi lampungpersyaratan, yaitu : keras, bobotnya berat dan agak berminyak dan juga tidak mudah retak atau pecah. Tujuannya agar mantap saat memukul, serta licin bila dipukul. Di samping itu juga tidak mudah gompel/gompal (cacat) bila kena pukulan lawan.

Ada beberapa tahap dalam pembuatan gasing. Pertama adalah pemilihan kayu yang sesuai kriteria (biasanya berupa balok berukuran panjang 14 cm, lebar 9 cm dan tebal 9 cm). Kedua, pengukuran agar diperoleh kesesuainan  keseimbangan dan hasil yang memuaskan. Pengukuran dilakukan untuk menentukan batas-batas bagian yang harus dibuang. Secara garis besar pengukuran dibagi ke dalam beberapa bagian, yaitu:
1. Kepala berukuran 3 cm (kepala 1,5 cm dan leher 1,5 cm) dengan lingkaran kepala 8 cm;
2. Badan berukuran 11 cm (leher badan 3 cm dengan lingkaran leher 7 cm) serta lingkaran tengah perut 16 cm dan ekor gasing 7 cm.

Tahap berikutnya adalah membentuk atau memahat  berdasarkan ukuran yang telah ditentukan. Dan diakhiri dengan penghalusan (finishing).

Selanjutnya, dibuatkan seutas tali yang terbuat dari kulit kayu herbang yang daunnya seperti daun kayu sukun atau terbuat dari kain. Cara pembuatan tali biasanya dilakukan dengan cara memilin atau memintal kulit kayu atau kain tersebut.

Bentuk gasing pada dasarnya berbentuk lonjong. Namun, dalam hal “potongan”  atau gaya sering berdasarkan selera penggemar atau pembuatnya. Misalnya bagian badannya ada yang berbentuk ubi bengkuang dan berbentuk sekuntum bunga yang belum mekar. Gasing yang bagus untuk diadu ialah gasing yang berpotongan seperti bulatnya telur atau buah sawo. Karena potongan seperti ini mempunyai putaran yang kencang, mantap untuk dipukul, tidak mudah mati putaran (OR) apabila kena pukulan lawan.

Posted by: gasingindonesia | 23 February 2009

GASING YOGYAKARTA

Gasing Bambu Yogyakarta

jogja

Masyarakat Yogyakarta menyebut permainan gasing dengan gangsingan sedangkan gasingnya mereka sebut dengan gangsing.

Jenis gasing yang terdapat di Yogyakarta dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu gasing adu pukul, gasing adu putar dan gasing adu bunyi.
Read More…

Posted by: gasingindonesia | 23 February 2009

Gasing JABAR

Gasing dari JAWA BARAT
Ulin Panggal

Bahasa daerah yang digunakan masyarakat Jawa Barat untuk menyebut gasing adalah Panggal. Dalam lingkup terbatas, ulin panggal, demikian masyarakat Jawa Barat menyebutnya, masih hidup. Namun di beberapa daerah (perkotaan) engetahuan tentang panggal didominasi oleh kalangan generasi tua. Nyaris generasi muda (baca : anak-anak) tidak lagi mengenalnya.
DKI
Di daerah kabupaten Garut kita dapat menjumpai beberapa anak muda sering bermain ulin panggal, bahkan diantaranya terampil membuat alat permainan yang dimaksud. Adapun pengrajin yang masih memproduksi panggal dalam jumlah terbatas sering dilakukan oleh Saudara Aris Fachrudin yang beralamat di Jl. H Hasan Arif, kampung Bojong salam, desa Sukaseneng Kec. Banyuresmi Kab. Garut.

Membuat gasing disesuakan dengan peruntukannya. Jawa Barat mengenal dua jenis gasing, yaitu gasing untuk kalangenan dan gasing untuk aduan. Gasing untuk kalagenan biasa dibuat dari bahan pohon yang luinak atau ringan. Oleh karena pada jenis gasing ini yang dijadikan tujuan adalah menghasilkan bunyi atau suara sekeras mungkin. Tercatat pohon (kayu) galinggem dan waru sering dijadikan bahan untuk jenis gasing kalangenan. Sedangkan jenis adu biasanya terbuat dari pohon (kayu) keras, misalnya jambu klutuk (jambu batu), pohon pete cina (sunda : peuteuy selong).
Jabar
Bentuk gasing Jawa Barat relative kecil dengan berfariatif. Ada yang berkepala ada juga yang tidak. Secara umum garis atau panggal dapat dibagi kedalam tiga (3) bagian, yaitu :

  1. Hulu (kepala)
  2. Awak (badan)
  3. Suku(kaki)

Ciri khas panggal Jawa Barat terletak di samping pada kerampingan bentuknya juga terletak pada bagian sukunya yang terbuat dari logam (paku). Pada bagian ini pemain sering memipihkan pakunya sedemikian rupa sehingga menghasilkan bentuk seperti kampak. Fungsinya adalah untuk menancapkan sekaligus membelah gasing lawan.
Read More…

Posted by: gasingindonesia | 23 February 2009

Gasing Flores NTT

Gasing Flores NTT

flores-ntt

Posted by: gasingindonesia | 23 February 2009

Gasing Bolaang Mongondow

Gasing Bolaang Mongondow

Bolaang

Posted by: gasingindonesia | 23 February 2009

GASING BLORA

GASING BLORA – JAWA TENGAH

Blora Jateng

« Newer Posts - Older Posts »

Categories